Bangun Semangat Literasi Nagari Pedalaman “Sikuli Tinta Turun Gunung”

banner 160x600

Women face

Sijunjung,--Bagi kaum terpelajar atau yang bisa dibilang yang hidup diperkotaan, akses untuk dapat membaca buku bisa dibilang mudah alias gampang, apalagi jika perpustakaan daerah melengkapi koleksinya dengan berbagai jenis buku berkualiatas. Masyarakat bisa dengan mudah mengakses dan membaca dengan tenag dan nyaman.

Bahkan dikota-kota besar pun tidak sulit menemukan toko-toko buku yang dengan mudah didatangi dengan koleksi buku yang bayak, lengkap dari perbagai penerbit, serta dengan mudah alias tak perlu mengeluarkan goceh atau uang  banyak, karena toko buku selalu mengadakan diskon besar. Namun bagi masyarakat yang tertinggal di Nagari atau Desa atau Nagari pedalaman, buku bacaan adalah barang langka sekaligus sangat berharga.

Baca Juga: Tim Sepakbola Kota Payakumbuh Takluk Atas Padang Panjang Dengan Skor 1-4 di Laga Perdana Porprov 2018

1506762597-Fakta Sumbar-WhatsApp Image 2017-09-28 at 13 22 28

Kondisi Masyarakat Nagari

Daerah yang notabene masyarakat kurung mampu dengan rata-rata masyarakatnya dengan  persentase 70 % tamatan  SLTP.  Seperti  halnya, yang tergambar di Nagari Bukit Bual Kecamatan Koto VII Kabupaten Sijunjung, memiliki jarak tempuh dari  ibukota kabupaten Sijunjung 22 Km, dengan jarak yang cukup jauh disertai letak geografis perbukitan, dan rumah penduduk pun berjauh-jauhan, kemudian akses ke Nagari Bukit Bual langsung menjadi tapal batas dengan Kota Sawahlunto, yang sampai saat ini belum bisa ditentukan tapal batas tersebut.

Nah, dari bukit nan menanjak, dari lurah nan terjal, pada tangga 9 Maret  2015, Si Kuli Tinta yang bernama Fadhlur Rahman Ahsas  berasal dari nagari Palangki Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung, yang akrab dengan profesi sebagai wartawan daerah alias “Kuli Tinta”, menikahi seorang gadis bernama Mutia Rahmi, yang berasal dari Nagari Bukit Bual. Seusai melaksanakan agenda sakral dengan melapaskan ijab qobul, dan dinyatakan sah sebagai suami. Sayapun pindah domisili dan bertempat tinggal menjadi warga nagari Bukit Bual.

Berjalannya waktu, hari demi hari, minggu berganti bulan sampai memahami semua lingkungan dan problematika yang terjadi di nagari Bukit Bual. Melihat dari data pemerintah nagari, bahwa masyarakat nagari Bukit Bual yang sehari-harinya penyadap getah dan buruh tambang Batu Bara. Pada tahun 2009 terjadi tragedi yang amat  memilukan, adanya ledakkan besar disebabkan tingginya kadar zat etana, yang menewaskan sekitar 35 orang dan tertimbun di lubang tambang Batu Bara.

Dampak dari tragedi tersebut, banyak anak-anak kehilangan ayah atau bapak, hingga grafik perekonomian menurun, ditambah lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM), apalagi yang rata-rata masyarakat tidak mengenyam pendidikan tinggi. Akibatnya banyak masyarakat nagari Bukit Bual menikah di usia dini dan kawin cerai.

Melihat dari kepiliuan tersebut, jiwa pun terpanggil untuk memperbaiki problemtika di nagari, terutama dalam dunia pendidikan, dengan tujuan memberikan semangat literasi guna membangun genarasi  cerdas, sesuai dengan yang diperintahkan dalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-Alaq : 96. Oleh karena itu, dengan tekad yang kuat, saya menggagas sebuah gerakan  yakni Pustaka Keliling  menggunakan sepeda motor.

1506762638-Fakta Sumbar-WhatsApp Image 2017-09-28 at 13 22 34

Kenapa Pustaka Keliling?

Sesungguhnya pergerakkan ini, bermula dari hobi membaca, menulis dan mengoleksi  buku  kurang lebih berjumlah 120 judul buku, yang di koleksi semenjak duduk dibangku sekolah hingga sekarang, serta tidak kalah penting pergerakkan Pustaka Keliling mendapat dukungan  moril dan materil dari keluarga. Sejogyanya penguatan pergerakkan, dilandaskan dengan bak pepatah kuno “Jadilah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya, walau hanya memiliki bebarapa butir biji Zahra”.

Guna pemanfaatan koleksi buku yang berdebu disudut almari rumah, juga dibarengi cita-cita yang amat sederhana, menjadi insan yang bermanfaat bagi insan lainnya, disamping ada panggilan jiwa ingin memperbaiki pendidikan di Nagari. Maka solusi pergerakkan Pustaka Keliling  sangatlah tepat sebagai solusi untuk membagun minat baca masyarakat. Apalagi letak georafis dan rumah penduduk di nagari Bukit Bual, mendaki menurun dan berjauh-jauhan. Sejujurnya nagari-nagari pedalaman memang sangat sulit di jangkau oleh pemerintah, terutama dalam membangun sayap literasi. Landasan itu, termaktub pula sebagai nawacita Presiden Joko Widodo yakni membangun Indonesia dari pinggiran

Dari orientasi terhadap keadaan sosial masyarakat yang jarang berpendidikan tinggi dan pola pikir masyarakat yang tidak menganggap penting pengetahuan,maupun yang masih banyaknya warga yang tidak mampu menyekolahkan sampai ke jenjang lebih tinggi, ia pun menganggap perlu menyajikan menu baru untuk menggugah dan mendekatkan masyarakat dengan jendela ilmu berupa buku. Masyarakat perlu diperhatikan dalam hal pengayaan ilmu pengetahuan karena dengan pengetahuan setidaknya masyarakat akan mengerti dan memahami hal – hal yang selama ini mereka abaikan dan anggap tidak penting menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat untuk memperbaiki taraf hidup mereka.

1506762696-Fakta Sumbar-WhatsApp Image 2017-09-28 at 13 22 29(1)

Si Kuli Tinta, Membangun Literasi Masyarakat

Sebelumnya, awal pergerakkan Si Kuli Tinta dengan Pustaka Keliling tidak berjalan seperti yang diharapkan, karena gerakkan tersebut  terlihat aneh dimata masyarakat, serta kurangnya  minat baca dan keingintahuan mereka. Namun, pergerakkan Pustaka Keliling tidak pupus dan goyah, seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai membuka mata dan hati, karena banyaknya manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya Pustaka Keliling, terutama bagi orang tua yang anaknya duduk dibangku sekolah. Dengan adanya Pustaka Keliling, akses untuk mendapatkan informasi dan menyelesaikan tugas sekolah menjadi lebih mudah.

Tidak hanya untuk siswa atau generasi muda yang datang membaca, bahkan masyarakat umum mulai melirik dan membaca buku-buku Pustaka Keliling, seperti halnya IRT (Ibu Rumah Tangga) yang dimudahkan dalam mencari resep makanan, sekaligus meringankan mengasuh anak-anak mereka bermain sambil membaca buku. Hingga generasi muda yang putus sekolahpun menanti kedatangan Pustaka Keliling, guna mengisi kekosongan waktu sambil membaca dan berdiskusi.

Memang, di zaman yang serbacanggih ini, mengakses informasi sudah bisa dilakukan lewat gawai “mbah google” atau akses internet, namun membaca buku tentu mempunyai rasa dan pengalaman tersendiri, mengingat betapa pentingnya kegiatan membaca, khususnya di kalangan masyarakat yang selama ini menganggap buku sebagai barang tabu.

Yah, Alhamdulillah sejak awal tahun 2016 hingga sekarang, Pustaka Keliling menjadi garda terdepan dalam menggalakan minat baca masyarakat di Nagari Bukit Bual. Agenda Pustaka Keliling diadakan satu kali dalam seminggu, tepatnya setiap hari Minggu pada pukul 15.30 wib. Bahkan ini adalah satu-satunya gerakkan literasi dengan cara Pustaka Keliling sepeda motor, sekaligus membatu program pemerintah Kabupaten Sijunjung pada program Sijunjung Cerdas.

Sementara itu, untuk menjaga semangat dan minat baca masyarakat dalam pergerakkan Pustaka Keliling, perlu adanya inovasi dan kreasi. Salah satu inovasi dan kreasi, saya memberikan reward atau hadiah saat pertemuan dalam Program Pustaka Keliling, bagi yang bisa menampilkan bakat, baik itu bercerita maupun berpuisi. Sesekali mengadakan kuis seperti tanya jawab seputar buku yang mereka baca.

Hadiah tidak perlu besar, dengan sebungkus makanan ringan dan sebuah air teh kotak, suasana Pustaka Keliling menjadi semangat dan ceria. Kemudian, disetiap hari besar seperti memeriahkan HUT RI dan hari Pusi Nasional, dengan bekerjasama pemuda-pemudi Nagari Bukit Bual untuk mengadakan lomba Puisi dan Mendongeng tingkat Nagari. Sedangkan untuk kreasinya, saya memasang poster gemar baca Pustaka Keliling yang ditempalkan ke-rumah masyarakat, juga ke instansi pemerintah secara cuma-cuma, dengan meme Bukit Bual Membaca “Pustaka Keliling. Anak Nagari Membangun. Dengan Membaca Dunia Ditangan Kita”.

Berikut Cuplikan Videonya?..