Yonnarlis, SHI, MH, Angkat Bicara

Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) Sumbar Tolak Keras Full Day School FDS



banner 160x600
Women face

Padang- Polemik kebijakan Permendikbud No.23 Tahun 2017 tentang Full Day School (FDS) atau lima hari sekolah mendapat reaksi dari Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) Sumatera Barat. Ihwal ini telah memutilasi waktu peserta didik dikalangan Nahdliyin, pesantren-pesanten, madrasah, apalagi Taman Pendidikan Alquran, yang memang fokus belajar disiang hari.

Mendengar kebijakan Kemendikbud yang direalisaskikan pemerintah, menggudang keras penolakan dari Ketua Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) Sumatera Barat, Yonnarlis, SHI, MH. Bahwa kebijakan ini telah mengurangi rasa, dan mencederai warisan bangsa, sebab warisan ini telah berabad-abad lamanya, sebelum Indonesia merdeka sudah ada madrasah diniyyah untuk bangsa ini.

"Anak-anak NU dari dahulu hingga sekarang, belajar disurau-surau, dalam mendalami ilmu agama, sebab ini telah ditegaskan dalam hadist nabi "Tholabul Ilmi Faridotun 'ala kulli Muslimin". Nah, Tholabul dalam arti dari Alif Lam yang menunjukkan kata ilmu disini adalah makrifat (khusus), yang di kedepankan adalah ilmu akhirat, jika sekarang dengan permen ini bukan masalah di kedepankan, malah memaknai dengan menghapuskan ilmu akhirat bagi generasi bagsa ini"terangnya sambil membuka kitab kuning

Selanjutnya dengan penjelasan lain, Yonnarlis menjelaskan, peraturan yang sejogya telah mengkerdilkan kaum ulama kampung (guru surau). Bukan itu saja, di Sumatera Barat, dengan program mashurnya yakni kembali kesaraupun pupus dtelan Kemendikbud, artinya adat anak Minangkabau yang biasa belajar hiup dan penghidupan dunia ataupun akhirat adalah disurau terkubur oleh zaman sekarang.

"Dalam perdebatan panjang tentang FDS ini, wajar jika PBNU, PWNU, PCNU dan organisasi yang mengangkat adat tradisional bangsa, dari atas sampai kepada akar menolak dan memintah pemerintah untuk membatalkan kebijakan tersebut. Apalagi FDS membelakangi tradisi yang sesungguhnya dalam alam Minangkabau yang menjadi sentral pendidikan yang menjadi program di Sumatera Barat yakni kembali ke Surau. Program bernas tersebut telah dicibirkan FDS. Pak mentri pendidikan membentuk karakter dan mental generasi bagsa tidak bisa dengan bahasa FDS, bukti pendidikan di Surau lebih bernas dan teruji"  kata Yonnarlis

Sementara itu, jika tidak ada solusi dengan penolakan FDS tersebut, Gerakan Mahaswa Satu Bangsa, akan merencanakan aksi besar-besaran menolak FDS. Aksi tersebut, sebagai keseriusan anak bangsa dalam memprotes keras kebijakan FDS. Yonnarlis akan berkordinasi dengan PWNU Sumbar, PCNU, PMII, ANSOR, IPNU, ISNU,FATAYAT, MUSLIMAT, dan juga BANSER dalam aksi turun kejalan.

"Kami akan melakukan aksi besar besaran pada Rabu 16 Agustus 2017 mendatang, dan hal ini juga bagian dari intruksi PBNU kepada seluruh PWNU serta badan otonom  (Banom) NU diseluruh Nusantara, untuk melaksanakan aksi menolak Permendiknbud No 23 tahun 2017 tentang hari sekolah dan kebijakan-kebijakan lainnya yang merugikan Madrasah Diniyyah" pungkasnya. (FRA)